Index adalah indikator untuk mengukur pergerakan harga asset baik itu saham, obligasi atau asset alternatif seperti komoditi. Indeks saham terdiri dari saham saham yang merepresentasikan bursa saham itu.
Di bursa saham Singapura (Singapore Exchange) , ada 30 saham perusahaan terbesar di Singapura yang merepresentasi Strait Times Index
Dibawah ini adalah komposisi Strait Times Index dan persentasenya
Bursa efek Indonesia ada 671 saham representasi IDX Composite Index atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau di website finasial luar negeri tertulis Jakarta Stock Exchange Composite (JKSE) dan 30 saham representasi IDX30 yaitu 30 saham terbesar di Bursa efek Indonesia.
Di negara paman Sam , ada beberapa indeks saham seperti S&P500 yang terdiri dari 500 saham perusahaan perusahaan terbesar di US, Dow Jones Industrial yang terdiri dari 30 perusahaan.
Indeks bisa disebut market atau pasar, jadi kalau ada berita , stock market atau pasar modal dunia turun hari ini , berarti berita ini mengacu kepada bursa indeks di negara negara di dunia pada umumnya.
Indeks saham juga bisa dijadikan benchmark metode standard pengukuran performa suatu portfolio saham yang meniru komposisi perusahaan perusahaan yang ada di indeks tersebut, portfolio inilah yang bisa dibeli oleh investor. Jadi kita sebagai investor tidak bisa membeli indeks seperti Strait Times Indeks , tetapi kita bisa membeli portfolio fund (Index Fund) yang meniru komposisi indeks tersebut baik dari segi perusahaan yang ada dan juga persentasenya. kalau di Singapura , investor bisa beli Nikko AM STI ETF kode ticker (G3B.SI) atau SPDR STI ETF (ES3.SI)
Industri dan sektor
Di saham part 2 saya sempat membahas mengenai indeks harga saham gabungan di suatu bursa saham, di dalam komponen bursa saham itu ada beberapa industri dan sektor (tergantung dari masing masing negara, ada industri yang dibawah sektor, ada sektor yang dibawah industri), tapi untuk simplenya kita gabungkan saja menjadi industri sektor
Sektor sektor yang ada di Bursa Efek Indonesia (Bursa Efek Jakarta) adalah sebagai berikut:
Yaks sekarang saatnya membahas asset class yang sangat populer (on demand) yaitu stock atau Bahasa Indonesianya saham. Karena banyak yang mesti dibahas, kita bagi dalam beberapa bagian
Waktu kita bahas mengenai bond, saya bahas tentang bagaimana suatu perusahaan mendanai pembelian asset mereka, ada dua cara yaitu dengan mengeluarkan bond , dan mengeluarkan saham.
Pertama-tama apakah itu stock? bedanya stock sama share apa?
Stock atau saham itu adalah sertifikat kepemilikan suatu perusahaan. Jadi kalau suatu perusahaan itu mengeluarkan saham berarti dia memecah kepemilikan perusahaannya dan bagian pecahan itu namanya shares sedangkan kepemilikan keseluruhan suatu perusahaan itu namanya stock.
Sebagai contoh, saya punya kios es durian dan saya butuh uang untuk membuka cabang es durian saya , saya punya dua pilihan , minjam uang (dari bank) itu namanya loan, tapi bank biasanya lebih strict , kalau ga bisa bayar cicilan , kios saya bisa diambil, makanya saya bisa punya pilihan lain mengeluarkan surat hutang, dan pilihan lainnya memecah kepemilikan kios saya ke teman teman saya. Misalnya es durian Inc saya valuenya 100 juta, saya pecah saya kasih ke teman saya A 10% , B 10% jadi tiap orang punya senilai 10 juta saham Es Durian Inc yaitu 10% dari total kepemilikan, saya sendiri punya 80 % masih pemegang saham mayoritas.
Nanti kalau untung saya punya dua pilihan , apakah ditahan untuk diputer membesarkan bisnis saya atau dibagi sebagai dividend atau dua duanya (sebagaian dibagi sebagai dividend sebagian ditahan , namanya sisa laba ditahan atau retained earning).
Kalau dibagi sebagai dividend si A dan B dapat dividend 10% dari total dividend yang dibagikan.
Setelah 2 tahun Es Durian Inc saya valuenya 1Milyar Rupiah. Jadi nilah saham yang dipegang si A dan B dari 10 juta jadi 100 juta.
Setelah 4 tahun Es Durian Inc saya bankrut karena kena Covid orang takut durian bikin panas dalam terus sakit tenggorokan dibilang Covid jadi ga ada yang mau Durian lagi. Value perusahaan saya jadi 0 . Dan si A dan B ingin uang 10 juta nya balik…
Tidak semudah itu Ferguso ! Nilai sahamnya mereka adalah 0 karena apa ? Karena 0 dibagi 2 atau 4 atau sejuta tetep aja 0 Bambang !
Jadi pelajaran yang bisa dipetik dari cerita itu, saham itu risknya lebih besar dari bond atau fixed deposit, karena kita bisa kehilangan semua investasi kita kalau tidak berhati hati memilih saham perusahaan yang bermutu karena dengan memiliki sertifikat kepemilikan perusahaan itu secara tidak langsung kita ikut serta dalam keuntungan atau kerugian perusahaan tersebut.
Jadi mindset kita kalau membeli saham perusahaan adalah membeli bisnis itu (seperti kata Warren Buffet , membeli saham bukan hanya sekedar membeli saham di stock market tapi membeli bisnis itu sendiri) jadi kita mesti melihat dari segi perusahaan itu secara keseluruhan apakah profitable , stabil secara keuangan dsbnya.
Seperti mengendarai kendaraan, makin kita trampil mengemudi , semakin kecil risikonya, jadi ada baiknya kita belajar bagaimana cara menganalisa saham itu, nanti saya bahas di topik tentang analisa keuangan suatu perusahaan di artikel yang akan datang.
Common Shares vs PreferredShares
Shares sendiri bisa dibagi dua, preferred shares dan common shares. Preferred shares itu dividennya tetap (fixed), tapi tidak bisa ikut ambil bagian dari keuntungan atau kenaikan nilai perusahaan. Common shares itu dividennya bervariasi tergantung keuntungan atau kenaikan nilai perusahaan.
Ketika ada klaim perusahaan kalau bangkrut, urutan klaim atas asset ada ditangan pemegang bond, lalu pemegang preferred shares dan setelah itu pemegang saham umum (common shares).
Cara membeli saham
Bagaimana cara membeli saham?
Ada dua cara, melalu pasar premier (Primary market) atau pasar sekunder (Secondary market)
Primary Market itu melalui Initial Public Offering (IPO) dimana perusahaan mulai menjual saham pertama mereka ke publik. Biasanya yang IPO adalah perusahaan perusahaan startup yang owner atau investor awal mau keluar dari investasi awal mereka , makanya dijual ke publik. bisa juga untuk expansi bisnis mereka.
Menurut saya pribadi lebih baik menghindari IPO ini karena sebagian besar perusahaan yang baru IPO harga sahamnya turun beberapa hari setelah IPO (mediannya turun 31 % dari harga IPO dari data IPO semenjak 1980), kenapa? karena alasan di paragraf sebelum ini, ada investor awal yang keluar dari investasi mereka atau memotong kerugian di investasi mereka. Dan juga perusahaan yang IPO biasanya hanya memiliki data keuangan tidak sampai 5 tahun jadi kita tidak bisa punya track record mereka untuk jangka waktu yang panjang untuk melihat apakah perusahaan itu stabil profitnya.
Secondary Market
Kita bisa membeli saham di secondary market yaitu stock exchange atau bursa saham. Setiap negara besar dengan ekonomi yang cukup dewasa (matured economy) memilik bursa saham seperti Singapore Exchange (SGX) , Jakarta Stock Exchange, Hang Seng Hongkong, New York Stock Exchange (NYSE). Bursa Malaysia dsbnya.
Untuk membeli saham kita harus mempunyai trading account dari stock broker yang melayani jual beli saham di exchange yang kita inginkan.
Untuk Singapore , kita juga harus memiliki Central Depository (CDP) account untuk menyimpan saham kita disitu. Kita bisa apply CDP account sendiri atau lewat stock broker kita. Kecuali trading account kita dibawah custodian , kita ga perlu punya CDP account karena saham kita atas nama broker kita bukan atas nama kita.
Untuk komisi stock broker relatif sama sekitar SGD 25 untuk minimal komisi atau 0.28% dari total nilai transaksi kecuali ada promosi seperti LimTan SGD 10.
Di SGX kita bisa beli saham minimal satu lot yaitu 100 saham, kalau di US , kita bisa beli satu saham karena harga saham di sana relatif mahal (Amazon sekitar USD 2,000 – 2,500) kalau beli 100 rasanya berat ya, seberat beban hidup ini cieh.
Capital Gain vs Dividend
Ada dua jenis keuntungan atau return yang diharapkan oleh investor ketika mereka membeli saham suatu perusahaan seperti yang saya diskripsikan di cerita Es Durian inc.
1.Capital Gain atau keuntungan modal, dimana harga saham saat ini lebih tinggi daripada harga saham waktu kita beli.
Capital gain sendiri ada dua, realised dan unrealised capital gain. Realised itu keuntungan kapital saat kita menjual saham kita saat ini. Unrealised capital gain adalah keuntungan kapital kita di atas kertas , bukan berupa uang karena kita tidak menjual saham kita dan mendapatkan uang hasil penjualannya.
Di beberapa negara , Capital gain terkena pajak tapi biasanya lebih kecil dari pajak untuk bunga (interest) atau dividend. Di Singapura Capital gain tidak dikenai pajak.
2. Dividend
Dividend atau pembagian hasil biasanya dibagikan setiap tahun, dua kali setahun (6 bulan) atau setiap kuartal. Suatu perusahaan biasanya membuat aturan untuk membagikan dividend yang konsisten dan stabil , atau naik perlahan lahan setiap tahunnya. Karena dividend yang konsisten memberi image kalau keuntungan tiap tahun stabil atau naik secara berkala.
Suatu perusahaan yang memberi dividend lebih kecil daripada dividend sebelumnya , biasanya diikuti oleh turunnya harga saham karena pasar tidak percaya lagi dengan kemampuan perusahaan tersebut dalam mendapatkan keuntungan.
Sekian dulu bagian pertama (Part 1) to be continued.
Sekarang kita membahas tentang bond atau obligasi, yang tak lain dan tak bukan adalah surat hutang yang dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan.
Suatu perusahaan kalau lagi mau menambah kapital untuk membeli assets bisa melalui dua cara, yang pertama mengeluarkan surat hutang , yang kedua menjual saham mereka. Sama seperti kalau kita beli rumah (asset pribadi), pertama kita minjem dari bank atau bisa juga kita patungan modal dengan saudara kita (menjual persentase kepemilikan rumah kepada mereka)
Bond Interest/ Kupon
Apakah yang kita dapatkan dari kepemilikan bond atau surat obligasi ini? Kita dapatkan fixed interest yang istilah di dunia keuangan adalah kupon (coupon) , bisa tiap tahun atau tiap 6 bulan sekali (2 kali setahun). Seperti fixed deposit jangka waktu 6 bulan atau 12 bulan.
Misalnya kupon bond ini 5 % kita beli 10 juta Rupiah ,kita setahun bisa mendapatkan 500 ribu rupiah , kalau dua kali setahun , setengah tahun pertama kita dapat 250 ribu dan setengah tahun berikutnya dapat 250 ribu lagi.
Kupon atau interest ini ada yang tetap ada yang step up interest dimana makin berjalannya tahun , makin tinggi bunga/ interest/ kuponnya.
Mungkin kita tergoda untuk memilih bond dengan kupon yang paling tinggi karena return investment kita makin besar, tapi jangan terlena dengan kupon atau bunga yang tinggi itu, karena makin tinggi kupon atau bunganya , berarti bond ini semakin risky. (risknya semakin besar).
Mari kita bahas tentang risk. Di dunia bond ini, risk pertama yang bisa dirasakan langsung oleh investor, yaitu default risk dimana perusahaan itu tidak bisa membayar kupon atau bunga pada tanggal jatuh tempo. Risk yang lebih tinggi lagi kalau investasi utamanya juga tidak bisa kita ambil lagi karena perusahaan bangkrut
Maturity
Bond ini juga ada maturitynya atau habis temponya. ada yang short term dibawah 1 tahun, mid term 3- 5 tahunan atau long term sekitar 10 sampai 20 tahun. ada yang sampai selama lamanya (namanya perpetual bond) yang tidak ada maturity datenya.
Biasanya makin lama maturitynya, makin tinggi kuponnya, karena investor harus diberi kompensasi karena berpisah dari duit mereka lebih lama, (Bond tidak bisa diambil sebelum jangka waktu atau maturitynya habis) jad lebih besar opportunity costnya, dan risknya lebih besar, karena makin lama jangka waktunya makin susah diprediksi ekonomi kedepan.
Government Bond vs Corporate Bond
Ada dua tipe bond dari segi organisasi yang mengeluarkan surat hutang itu. Yang pertama pemerintah dan kedua perusahaan.
Tentunya surat hutang yang dijamin pemerintah lebih kecil risikonya dibanding surat hutang yang dijamin oleh perusahaan.
Credit Rating
Kita bisa melihat kapasitas pemerintah atau perusahaan yang mengeluarkan surat hutang itu dari segi credit rating yang biasa dikeluarkan oleh Moody atau Standard or Poor yang merupakan credit rating agency.
Credit Rating itu mencerminkan credit worthiness dari peminjam (pemerintah atau perusahaan yang mengeluarkan surat hutang tersebut).
Credit rating biasanya ditulis dengan abjad ABCD , dengan AAA (standard & poor) atau Aaa (Moodys) adalah credit rating paling tinggi dengan tingkat kemungkinan default pembayaran kupon paling rendah).
Bond dengan Credit Rating AAA sampai BBB- bisa dikategorikan sebagai investment grade bond. sedangkan dibawah BBB- bisa dikategorikan sebagai junk bond (higher risk).
Bagaimana cara taunya bond ini aman atau tidak selain dari credit rating?
kita bisa menganalisa financial statement seperti income statement , balance sheet dan cash flow statement sama seperti kita menganalisa saham karena dari situ kita bisa tahu keuntungan perusahaan , kuat nya balance sheet dan cash flow mereka untuk bisa membayar kupon bond kita.
Sayangnya untuk membeli bond terutama bond dari suatu perusahaan biasanya perlu biaya besar, 1 lot bond 100 000 USD biasanya. Jadi biasanya buat high networth investors atau institutional investors.
Kalau untuk ritel investors seperti kita kita ini , kita bisa beli Bond fund dari mutual fund atau bond ETF. apa itu ETF dan mutual fund? nanti kita bahas lebih lanjut di postingan yang akan datang.
Ritel investors bisa juga membeli bond milih pemerintah (Singapore Saving Bond) atau Bond Bank Indonesia.
Bond biasanya tidak bisa diambil sebelum masa berlaku (maturity) habis, Singapore Saving Bond adalah pengecualian. Investor bisa kapan saja mengambil Principal investmentnya sebelum maturity.
Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan kita tentang asset class yang sudah saya beberkan di part 1
Yang pertama dan paling kecil risknya adalah bunga deposito atau fix deposit. pastinya kita sudah sangat familiar dengan ini. saat kita ke bank pasti ada tulisan bunga deposito dengan jangka waktu tertentu seperti 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun. Makin lama jatuh temponya makin besar bunganya, karena namanya opportunity cost. Kita ga bisa gunakan uang kita lebih lama buat beli bubble tea atau beli pisang goreng selamat setahun ya kita berhak donk dapet imbalan yang lebih besar.
Sekedar mengingatkan in case ada yang tidak tahu, kalau bunga deposito yang tertera di tembok kantor cabang bank bank itu hitungannya per tahun ya. kalo 1 bulan 4 % ya berarti kalau kita deposito 1 juta berarti bunganya 4 % x 1 juta / 12 bulan gitu hitungannya. jangan lupa dibagi 12 kalau 1 bulan. kalau 4 % sebulan bank bisa jadi bank(rut)
berikut ini snap shot deposito beberapa bank per tanggal 20 Mei 2020
Fixed deposit ini termasuk kategori risko yang paling kecil karena ada asuransi sampai nilai deposito tertentu in case banknya lagi dalam krisis depositonya ga hilang.
Setelah menulis kebanyakan tentang personal finance, karena banyak permintaan untuk menulis tentang investasi maka ada baiknya kalau saya memulai topik ini.
Pertama, apakah namanya investasi? investasi itu mengesampingkan kesenangan saat ini untuk kebahagiaan masa depan. jadi daripada uangnya dipakai untuk membeli barang barang yang nilainya turun karena depresiasi seperti smart phone , mobil, tablet, lebih baik dipakai untuk membeli asset seperti saham company yang produksi smartphone , mobil atau tablet tersebut, karena kalau perusahaan itu fundamentally bagus , harga sahamnya bakal makin meningkat.
Investasi di asset asset class apa aja yang ada di dunia investasi itu
Traditional Investment:
Fixed Deposit
Stocks / Saham
Bonds/ Obligasi
Alternative Investment:
Mutual Funds/ Unit Trust / Reksa Dana
Exchange Traded Funds (ETF)
Hedge Fund
Commodities
Real Estate
Derivative Products
Cryptocurrency
Sebelum berinvestasi ada baiknya bagi kita untuk mengerti diri kita sendiri. Mari kita sama sama merenungkan hal hal di bawah ini:
Investment Objective
Apakah objective dari Investasi kita ? apakah untuk masa pensiun, pendidikan anak atau untuk passive income ?
2. Investment Goal
Apakah tujuan kita berinvestasi? apakah untuk kapital apresiasi (capital gain) atau untuk dividend atau bunga?
3. Time Horizon (Jangka waktu)
Apakah jangka waktu kita ? untuk short term dibawah 2 tahun? atau medium term 3 sampai 5 tahun ? atau long term diatas 5 tahun ?
4. Risk Appetite (Keberanian untuk ambil risiko)
Apakah kita mau ambil resiko yang besar? atau takut ambil risiko (kalau harga turun 2 % dari harga awal , bisa ga tidur beberapa hari?)
5. Ability to take risk (Kemampuan ambil risiko)
Apakah kita mampu untuk ambil risiko? apakah emergency fund kita cukup untuk tidak menjual saham kita buat keperluan mendadak? karena kalau saham kita lagi merugi dan ada keperluan mendadak , kita terpaksa harus menjual saham kita dengan menanggung kerugian.
besar kecilnya kemampuan kita tergantung dari pemasukan dan pengeluaran kita masing masing dan status kita apakah kita punya tanggungan seperti kredit rumah, pengeluaran anak istri , atau kita single apalagi jomblo ga banyak pengeluaran justru bagus bisa punya kemampuan mengambil risiko.
kalau usia kita muda, kita lebih mampu mengambil risiko rugi karena jangka waktu investasi kita lebih panjang daripada kalau kita sudah berusia mendekati pensiun yang jangka waktu investasi kita relatif lebih pendek.
6. Pengetahuan investasi
apakah pengetahuan kita termasuk beginner, intermediate atau advance? investasi itu seperti mengemudi kendaraan bermotor. orang bilang risikonya besar , mereka benar, risiko besar kalau kita ga tau cara mengemudi seperti anak TK atau SD mau mengemudi motor kita juga ketar ketir. di investasi juga begitu, makin tinggi pengetahuan kita , makin kecil risiko untuk berinvestasi karena kita tau mana investasi yang cocok untuk kita.
7. Waktu untuk memonitor investasi kita
Seberapa banyak waktu kita untuk memonitor investasi kita? apakah kita punya waktu untuk menganalisa perusahaan yang sahamnya ada dalam short list kita?
sekian dari saya untuk topik ini. saya akan menelaah secara lebih detail asset class satu persatu.