Waktu baca: 15 sampai 20 menit.
Sekarang marilah kita membahas berbagai tipe saham
Pertama berdasarkan ketahanan terhadap siklus ekonomi. Ada dua tipe:
1. Non Cyclical Stock(Defensive stocks )
Defensive stocks ini adalah kategori saham yang relatif lebih stabil untuk segala macam cuaca. Lebih tahan banting kalau lagi resesi, karena perusahaan perusahaan di industri ini memproduksi atau menjual produk produk konsumsi sehari hari yang konsumer selalu membutuhkan. Seperti makanan, minuman , odol, sabun, alat alat kesehatan. Karena siapa yang tidak butuh odol walaupun lagi resesi atau krisis moneter. Kalau mereka sakit tetap mesti ke dokter.
Saat ekoomi lagi sulit, saham saham industri yang non cyclical atau defensive ini performa nya lebih baik daripada saham saham industry yang cyclical.
Saham saham perusahaan itu contohnya Coca Cola, Johnson & Johnson, Colgate, P&G.
Karena saking stabilnya kadang kadang saham ini lumayan boring tapi bagus untuk dimiliki karena stabilitas harganya, kalaupun turun juga turunnya tidak sebanyak saham cyclical.
2. Cyclical stocks
Cyclical Stocks ini adalah kategori saham yang lebih fluktuatif, dan sangat bergantung pada situasi dan siklus ekonomi pada saat itu. kalau ekonomi lagi booming , orang orang pada membeli produk produk yang diproduksi dan dijual oleh perusahaan di industri ini, yang menyebabkan keuntungan perusahaan naik dan sahamnya juga ikutan naik dan kenaikan sahamnya melebihi sahan saham defensive.
Tapi hal sebaliknya juga berlaku saaat ekonomi lagi resesi, orang orang lebih menyimpan uang mereka atau membeli barang barang keperluan sehari hari daripada barang barang yang termasuk dalam kategori barang mewah, jadi pendapatan dan keuntungan perusahaan cyclical ini cenderung menurun dan sahamnya juga pada akhirnya akan turun lebih besar daripada penurunan saham defensive.
Saham saham cyclical ini seperti saham perusahaan otomotif (Ford, Ferrari), barang barang mewah (LV), perhiasan, jam tangan, handphone(APPLE), jasa travel, airlines (Singapore Airlines, AAL), tempat nongki (STARBUCKS) dsbnya.
Value Stock vs Growth Stock
Stock bisa dibagi menjadi dua berdasarkan seberapa cepat perusahaan itu untuk menaikan keuntungan mereka dari tahun ke tahun.
1.Growth Stock
Seperti namanya , growth stock ini adalah stock perusahaan yang perkembangan pendapatannya (revenue) bukan keuntungan(profit atau earning) naik dengan pesat dari tahun ke tahun, sehingga harga sahamnya juga naik dengan cepat dibanding dengan saham saham lainnya.
Growth stock biasanya banyak dari perusahaan perusahaan di bidang teknologi terutama teknologi yang sedang in seperti Amazon, Facebook, Shopify, Tesla dan lain lainnya.
Biasanya growth stock harga stocknya lebih mahal jika dilihat dari Price / Earning Ratio , Ratio harga saham dibanding keuntungan per saham, ini karena investor yakin perusahaan ini ke depannya bakal mendapatkan untung berlipat lipat dari waktu sekarang karena perusahaan itu masih berkembang.
Karena perusahaan ini masih berkembang , biasanya perusahaan dalam kategori growth stock ini tidak membagikan dividen karena semua keuntungannya ditahan untuk diputar lagi di bisnis mereka supaya lebih cepat berkembang, dan juga walapun mereka pendapatan nya berkembang cepat tapi banyak yang masih merugi karena mereka banyak pengeluaran terutama di bagian Research & Development – R&D. Seperti Tesla sudah lebih dari satu dekade masih merugi hanya beberapa kuartal terakhir mendapatkan keuntungan,
Biasanya perusahaan berkembang ini lebih risky karena kita ga tahu pendapatannya bisa berkembang sampai kapan dan kapan mereka mulai untung. Biasanya growth stock investor lebih ke mereka yang fokus untuk mendapatkan keuntungan modal bukan dividen.
2. Value Stock
Berlawanan dengan Growth Stock , Value stock adalah stock dari perusahaan yang pertumbuhan pendapatan dan keuntungan relatif lebih lambat dari Growth stock tapi konsisten dari tahun ke tahun atau dari dekade ke dekade. Perusahaan value stock ini biasanya sudah sangat besar ukurannya jadi mereka susah berkembang, jadi biasanya mereka membagikan keuntungannya ke investor sebagai dividend (tidak banyak keuntungan yang ditahan untuk diputar di bisnis mereka – dividend payout ratio nya besar ) .
Karena pertumbuhan pendapatan (sales atau revenue) nya cukup lamban dan keuntungannya konsisten dan stabil , maka biasanya perusahaan ini Price / Earning rationya kecil (dibawah 10 – 15 an) . contohnya IBM , Citibank, dan perusahaan perbankan di US dan di Singapura (DBS, OCBC, UOB)
Biasanya Value stock investor mereka yang lebih fokus mendapatkan dividend dari tahun ke tahun daripada keuntungan modal.
Perusahaan yang awalnya growth stock lama lama setelah menjadi besar akan berevolusi menjadi Value Stock karena pertambahan pendapatan dan keuntungan mereka tidak secepat waktu mereka masih perusahaan kecil contohnya Apple dari P/E sekitar ratusan , sekarang sekitar 20 an .
Cara cara menganalisa saham
Ada 2 ajaran ada atau dua kubu yang berbeda dalam menganalisa saham. Masing masing mengakui kubu merekalah yang paling baik. tapi ada baiknya menggabungkan dua analisa ini untuk hasil yang lebih optimum.
1. Fundamental Analysis.
Fundamental Analysis adalah analisa saham yang menitikberatkan pada faktor ekonomi makro, industri sektor , dan juga detil analisa perusahaan termasuk laporan keuangan perusahaan serta manajemen perusahaan itu sendiri. konsep dari fundamental analisis ini adalah menemukan perusahaan yang kuat balance sheetnya, untungnya stabil dan konsisten atau naik terus , trend industrinya lagi naik , managementnya bagus , baru membeli saham itu seperti yang saya diskusikan dalam part 1.
2. Technical Analisis
Technical Analisis adalah metode analisa saham dengan menggunakan grafik harga harga saham saat ini dan masa yang lampau, dengan rentang waktu tertentu , bisa dalam jam, hari, minggu , bulan , atau tahunan. Konsepnya adalah sejarah akan terulang kembali, jadi trend harga saham akan berulang, jadi kita menggunakan grafik harga harga di masa lalu untuk memprediksi harga harga saham yang akan datang.

Seperti saya sebutkan diatas , kalau ada baiknya menggabungkan dua konsep atau ajaran itu untuk hasil yang lebih optimum karena fundamental analisis untuk memilih saham mana yang bagus untuk dibeli dan apakah harganya dibawah fair value atau nilai intrinsik atau relatif lebih murah dibanding kompetitor mereka di industri yang sama.
Sedangkan technical analisis itu untuk patokan timing kapan saat yang tepat membeli saham yang sudah kita pilih atau shortlist, jangan sampai kita melawan arus momentum, momentumnya lagi turun, kita beli , jadi kita harus menunggu waktu yang lama untuk harga nya kembali ke harga beli kita untuk balik modal dan dapat untung.
Saya sendiri adalah penganut Fundamental Analisis karena background saya dari Chartered Financial Analyst atau CFA, jadi lebih banyak belajar mengenai ekonomi makro dan analisa keuangan perusahaan sebelum membeli saham. Sekarang saya lagi belajar mengenai Technical Analisis untuk melengkapi ilmu saya.
Sekian dulu dari saya. Mungkin part 4 ini adalah terakhir untuk saham kecuali ada tambahan yang saya kepikiran.