Di akhir Februari sampai dengan awal Maret, saham-saham growth stock terutama di sektor teknologi mengalami koreksi dengan penurunan nilai lebih dari 10%. Hal ini dikarenakan naiknya long term bond yield.
Apakah sebenarnya definisi dari bond yield dan growth stock?
Growth stock atau saham perusahaan yang berkembang adalah saham-saham di sektor yang diprediksi oleh pemain pasar modal akan booming dalam satu dekade mendatang. Perusahaan-perusahaan teknologi biasanya mendominasi sektor ini. Growth stock ini cenderung memiliki risiko yang tinggi dan lebih volatile, Nilai sahamnya bisa naik atau turun dengan jumlah persentase yang sangat besar dalam satu hari. Meskipun begitu, growth stock ini menjadi favorit para investor karena kenaikan dalam beberapa bulan bisa lebih dari 20%, bahkan ada yang sampai 50%.
Contoh-contoh saham industri yang berkembang (growth stock) adalah dari industri Electric Vehicle atau mobil listrik seperti Tesla, Komunikasi virtual seperti Zoom , e-commerce seperti Amazon, Alibaba, dan lain sebagainya.
Bond atau obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan untuk ditawarkan kepada investor. Kita sebagai investor obligasi meminjamkan uang kita kepada yang mengeluarkan bond yaitu perusahaan atau pemerintah dengan kompensasi bunga atau interest yang dinamakan kupon pada setiap 6 bulan atau setiap tahun.
Kupon (coupon) rate adalah besarnya persentase bunga yang dibayarkan kepada investor secara berkala tersebut.
Coupon Rate yang tinggi = Risikonya tinggi
Bond memiliki tanggal jatuh tempo dimana penghutang atau lembaga yang menerbiukan bond tadi harus mengembalikan hutang prinspalnya ke investor.
Bond Yield adalah ekspektasi hasil/return yang didapatkan oleh Investor atas kepemilikan bond/ obligasi. Bond yield akan naik dengan naiknya risiko dari:
- Kenaikan risiko default atau tidak bisa membayar regular kupon
- Opportunity cost dibanding investasi di produk atau sarana investasi lainnya
- Kenaikan ekspektasi inflasi di masa yang akan datang.
Bond yield ini berbanding terbalik dengan harga bond. Ketika harga bond naik karena kenaikan demand dari investor, yield-nya turun. Begitu pula sebaliknya, ketika harga bond turun karena demand turun, yield-nya akan naik.
Yield Curve:
Yield curve adalah garis yang menghubungkan yield dari kumpulan bond/obligasi yang memiliki rating kredit atau kualitas kredit yang sama tetapi dalam jatuh tempo yang berbeda.
US Treasury Yield curve adalah salah satu yield curve yang umum dipakai sebagai perbandingan (benchmark) di dunia investasi. Seperti namanya, US Treasury Yield terdiri dari bond dengan jatuh tempo (maturity dates) dari 1 bulan sampai dengan 30 tahun.
Yield curve ada beberapa bentuk:
- Normal
- Steep
- Inverted
- Flat
- Normal Yield Curve
Pada umumnya yield curve upward sloping atau makin lama jangka waktu jatuh temponya (maturity), yield-nya makin tinggi. Ini terjadi karena investor menuntut kompensasi yang lebih tinggi untuk mengambil risiko yang lebih lama dan juga opportunity cost yang lama juga.
Tingkat risiko di waktu 10 atau 30 tahun jauh lebih besar dari pada 3 bulan.

2. Steep Yield Curve
Seperti normal yield curve yang upward sloping, tapi grafik yield curve-nya lebih tajam kenaikannya. Ini terjadi karena yield bond dengan jatuh tempo yang lama lebih tinggi dan lebih cepat kenaikannya dari pada bond dengan jatuh tempo yang lebih singkat.
Biasanya terjadi diawal ekspansi ekonomi di mana investor menuntut kompensasi yang lebih tinggi untuk risiko yang lebih panjang (long term) karena mereka percaya kalau suku bunga (interest) dan juga inflasi akan naik di tahun-tahun yang akan datang.

3. Flat Yield Curve
Biasanya awal dari inverted yield curve, terjadi jika ekonomi akan mengalami slowdown

4. Inverted Yield Curve
Yield menurut dengan makin lamanya jatuh tempo, ini biasanya terjadi di awal ekonomi slowdown dimana investor membeli long term bond untuk mengunci yield yang tinggi sebelum yield-nya turun karena resesi, di mana pemerintah biasanya menurunkan tingkat suku bunga untuk mendukung pemulihan ekonomi sebagai stimulus

Kembali ke Treasury Yield yang akhir akhir ini bergerak naik dengan cepat (Yield steepening) , disebabkan dengan adanya informasi mengenai vaksin covid19, yang bisa jadi akan menandai berakhirnya musim pandemi dan ekonomi kembali naik serta inflasi diperkirakan juga akan naik.

Sekarang marilah kita melihat tren 10 years Treasury Yield yang merupakan obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan jatuh tempo 10 tahun, yang juga biasanya dijadikan acuan untuk Risk Free Rate atau pinjaman bebas risiko.
Dari grafik di bawah ini kita bisa melihat 10 years Treasury Yield perlahan-lahan naik.
Lalu apa hubungannya dengan Growth Stocks?

Banyak perusahaan terutama perusahaan di bidang teknologi menikmati bunga pinjaman yang rendah di saat bond yield rendah, karena adanya Quantitative Easing (QE) dari pemerintah khususnya Amerika Serikat untuk mengembangkan bisnis dan usaha mereka.
Dengan kenaikan 10 years long term bond yield, perusahaan yang tadinya menikmati bunga yang rendah akan berpikir dua kali untuk meminjam uang lagi karena bunga pinjaman yang naik, menjadi lebih mahal biaya bunga pinjaman per tahun dan akan menurunkan profit di tahun yang akan datang.
Bunga pinjaman bebas risiko (Risk free rate) yang tinggi akan mengakibatkan lebih tinggi discounted future cash flow yang merupakan salah satu metode valuasi suatu saham dan mengakibatkan turunnya valuasi saham perusahaan itu.
Perusahaan teknologi terkenal dengan valuasi yang tinggi. Dengan turunnya valuasi saham perusahaan itu maka makin overvalue perusahaan teknologi tersebut. Hal ini mengakibatkan major sell off atau penjualan besar besaran saham-saham teknologi. Walau pun secara fundamental tidak ada yang berubah, tapi valuasilah yang akan mendorong sell off yang tajam.
Oleh karena itu, dalam satu atau dua bulan belakangan ini ada sektor rotasi dari growth sector ke value sector. dimana investor berpindah ke saham-saham perusahaan yang masuk dalam Value company, perusahaan dengan valuasi yang rendah dan biasanya perusahaan yang market capitalisation besar dan stabil, dengan keuntungan yang konsisten. Kebetulan sektor-sektor recovery dari pandemi dan resesi kebanyakan adalah value company.
Berikut ini adalah sektor recovery yang akan booming
- Minyak dan gas
- Transportasi , travel dan penerbangan
- Rekreasi dan hiburan
- Perbankan
- Industri manufaktur
- Komoditas-komoditas yang mendukung industri manufaktur
- Properti
Semoga bermanfaat. Salam cuan!