Hemat Saat Ramadan dan Lebaran

Bulan Ramadan sudah berjalan dua mingguan dan biasanya kita sudah bersiap-siap sambut lebaran yang semakin di depan mata. Biasanya bulan puasa dan lebaran akan menggoda kita untuk “jajan lebih”.

Jajan makanan maupun baju dan perlengkapan baru. Nah, berikut ini adalah tips-tips dan cara berhemat saat Ramadan serta persiapan lebaran

1. Mengalokasi dana spesial lebaran

Lebaran itu biasanya menjadi tidak murah karena butuh uang ekstra untuk mudik (kondisi normal), membeli perabotan, baju baru, memberi uang untuk orang tua, saudara, dan juga para keponakan saat berkunjung dan bersilaturahmi.

Darimanakah kita mendapatkan dana ekstra itu?

Bisa dari hasil alokasi anggaran jangka pendek atau menengah. Kita pasti tahu bahwa lebaran itu adalah hal yang pasti terjadi dan pengeluarannya tidak bisa dielakkan. Ada baiknya kalau kita alokasikan anggaran bulanan khusus untuk “jajan lebih” saat lebaran.

Dana yang lain bisa dikumpulkan adalah dari penghematan saat berpuasa sebulan. Dengan berpuasa, secara tidak langsung kita bisa berhemat setidaknya satu kali makan (makan siang) per hari. Jika dikalikan 30 hari maka hasilnya lumayan untuk kita satukan dalam alokasi cadangan dana lebaran.

2. Membatasi berbuka puasa yang mahal dan berlebihan

Biasanya di bulan puasa banyak sekali acara buka puasa bersama dengan makan-makan di restoran atau di cafe. Mungkin satu dua kali dalam sebulan wajar, tapi jangan keseringan! Kalau bisa, buka puasa secara sederhana dengan memasak sendiri di rumah bersama keluarga akan lebih hemat dan hangat.

3. Membeli baju lebaran untuk lebaran tahun depan.

Kapan saat yang baik untuk membeli produk-produk musiman seperti lebaran, imlek, natal? Apakah sebelum hari raya tersebut?

Jawabannya: tidak!

Saat terbaik untuk membeli produk-produk hari raya adalah setelah hari raya itu berakhir/lewat. Karena biasanya barang-barang tersebut akan diobral karena musimnya sudah terlewati. Saat itulah kita bisa membeli barang-barang tersebut dengan harga miring dan dipersiapkan untuk lebaran tahun mendatang.

4. Memakai kembali baju baju lebaran yang pernah dipakai tahun lalu.

Jika kita ingin menghemat, ada baiknya memakai baju baju lebaran yang pernah kita pakai tahun yang lalu.

Biasanya orang akan lupa atau malah sebenarnya tidak peduli dengan pakaian apa yang kita pakai di tahun-tahun sebelumnya.

5. Silahturahmi virtual

Karena masih pandemi, maka pemerintah membuat larangan untuk mudik atau pulang ke kampung halaman.

Hal ini justru menguntungkan karena kita jadi bisa menghemat biaya transportasi (tiket pesawat, kereta api, bus, dll) yang biasanya mengalami kenaikan drastis setiap jelang lebaran.

Sebagai gantinya, adakan silahturahmi virtual melalui sarana komunikasi yang sekarang ini sudah lazim digunakan.

Selamat menjalankan Ibadah puasa dan selamat menyambut hari kemenangan Idul Fitri!

SPAC: Special Purpose Acquisition Company

Akhir-akhir ini sering terdengar istilah yanbg sedang menjadi perbincangan yaitu SPAC. Sebenarnya apa SPAC itu dan bagaimana cara kerjanya?

SPAC adalah Special Purpose Acquisition Company, diterjemahkan menjadi perusahaan yang khusus didirikan untuk melakukan akusisi atau membeli perusahaan lainnya.

SPAC biasa dikenal sebagai perusahaan cek kosong atau Blank Cheque Company, sebuah perusahaan fund management yang mengadakan Initial Public Offering (IPO) untuk mendapatkan dana segar dari para investor. Dana segar inilah yang nantinya digunakan untuk mengakuisisi atau membeli perusahaan lainnya.

Blank cheque company ini tidak mempunyai sistem operasional sendiri dan tidak memiliki business plan karena memang lebih ditujukan untuk melakukan akusisi perusahaan lainnya. Dan yang seperti namanya “blank cheque” , para investor SPAC tidak tahu perusahaan mana yang akan diakusisi oleh SPAC yang bersangkutan. Hanya manajer SPAC yang tahu dan biasanya dirahasiakan ke public untuk menghindari pemaparan data yang lebih detail dan mendalam.

SPAC mempunyai waktu dua tahun untuk mengakusisi perusahaan lain. Jika dalam waktu tersebut tidak terlaksana maka SPAC tersebut harus mengembalikan uangnya ke para investornya.

Kenapa SPAC menjadi favorit para perusahaan yang akan melakukan go publi? Salah satu alasannya adalah lebih efektif dan efisien karena tidak memerlukan proses yang panjang (dalam 3- 4 bulan) dibanding dengan proses  IPO biasa yang biasanya memakan waktu sekitar satu tahun. Selain itu biaya listing (underwritten fees) lebih murah separuhnya dibanding dengan IPO secara tradisional.

Contoh-conoth SPAC IPO adalah perusahaan perjalanan luar angkasa milik Richard Branson Virgin Galactic, perusahaan baterai mobil listrik Quantum Scape, dan yang baru-baru ini terjadi adalah GRAB berencana IPO melalui SPAC di pasar Amerika Serikat.

Untuk para investor , SPAC sebenarnya termasuk berisiko tinggi karena perusahaannya termasuk kategori startup atau yang sedang ekspansi (growing) dan belum untung. Mereka ada di industri yang relatif baru dan mereka perlu “membakar duit” untuk ekspansi dan menjadi market leader di industri itu.

Perusahaan baterai mobil listrik Quantum Scape (ticker: QS) contohnya. Mereka masih dalam fase product development dan diperkirakan baru mulai menerima pendapatan atas penjualan pertama mereka di tahun 2026. Jadi sebenarnya investasi ini tergolong berisiko tinggi karena bisa saja produk mereka nantinya akan gagal dijual.

Seperti IPO tradisional, harga IPO saat pertama kali dijual di publik atau pasar modal naik sangat tinggi, tetapi setelah itu para investor yang mendapat alokasi IPO biasanya ambil profit (profit taking) dengan cara menjual, dan biasanya yang terjadi adalah dalam beberapa minggu pertama harganya akan berangsur-angsur turun.

Lebih parah lagi kalau lock up period, masa dimana insider (pemegang saham yang ada di dalam perusahaan itu) tidak boleh menjual saham yang mereka pegang, sudah lewat. Para insider biasanya banyak menjual saham-saham perusahaan itu dan nilai sahamnya akan segera mengalami penurunan secara tajam.

Saya jarang membeli saham IPO karena track record laporan laba rugi dan neraca perdagangan perusahan hanya tersedia sekitar 2-3 tahun terakhir. Juga karena kebanyakan investasi saat IPO (lebih dari 50%) mengalami kerugian, yang bisa terjadi dalam jumlah yang sangat besar (50- 75% dari investasi awal) yang disebabkan oleh “over hype” dan juga “over valuation”.

Semoga informasi mengenai IPO dan SPAC ini dapat berguna. Salam Cuan!