Basic Pengetahuan Investasi

Reading time: 10 – 15 menit.

Setelah menulis kebanyakan tentang personal finance, karena banyak permintaan untuk menulis tentang investasi maka ada baiknya kalau saya memulai topik ini.

Pertama, apakah namanya investasi? investasi itu mengesampingkan kesenangan saat ini untuk kebahagiaan masa depan. jadi daripada uangnya dipakai untuk membeli barang barang yang nilainya turun karena depresiasi seperti smart phone , mobil, tablet, lebih baik dipakai untuk membeli asset seperti saham company yang produksi smartphone , mobil atau tablet tersebut, karena kalau perusahaan itu fundamentally bagus , harga sahamnya bakal makin meningkat.

Investasi di asset asset class apa aja yang ada di dunia investasi itu

Traditional Investment:

  1. Fixed Deposit
  2. Stocks / Saham
  3. Bonds/ Obligasi

Alternative Investment:

  1. Mutual Funds/ Unit Trust / Reksa Dana
  2. Exchange Traded Funds (ETF)
  3. Hedge Fund
  4. Commodities
  5. Real Estate
  6. Derivative Products
  7. Cryptocurrency

Sebelum berinvestasi ada baiknya bagi kita untuk mengerti diri kita sendiri. Mari kita sama sama merenungkan hal hal di bawah ini:

  1. Investment Objective

Apakah objective dari Investasi kita ? apakah untuk masa pensiun, pendidikan anak atau untuk passive income ?

2. Investment Goal

Apakah tujuan kita berinvestasi? apakah untuk kapital apresiasi (capital gain) atau untuk dividend atau bunga?

3. Time Horizon (Jangka waktu)

Apakah jangka waktu kita ? untuk short term dibawah 2 tahun? atau medium term 3 sampai 5 tahun ? atau long term diatas 5 tahun ?

4. Risk Appetite (Keberanian untuk ambil risiko)

Apakah kita mau ambil resiko yang besar? atau takut ambil risiko (kalau harga turun 2 % dari harga awal , bisa ga tidur beberapa hari?)

5. Ability to take risk (Kemampuan ambil risiko)

Apakah kita mampu untuk ambil risiko? apakah emergency fund kita cukup untuk tidak menjual saham kita buat keperluan mendadak? karena kalau saham kita lagi merugi dan ada keperluan mendadak , kita terpaksa harus menjual saham kita dengan menanggung kerugian.

besar kecilnya kemampuan kita tergantung dari pemasukan dan pengeluaran kita masing masing dan status kita apakah kita punya tanggungan seperti kredit rumah, pengeluaran anak istri , atau kita single apalagi jomblo ga banyak pengeluaran justru bagus bisa punya kemampuan mengambil risiko.

kalau usia kita muda, kita lebih mampu mengambil risiko rugi karena jangka waktu investasi kita lebih panjang daripada kalau kita sudah berusia mendekati pensiun yang jangka waktu investasi kita relatif lebih pendek.

6. Pengetahuan investasi

apakah pengetahuan kita termasuk beginner, intermediate atau advance? investasi itu seperti mengemudi kendaraan bermotor. orang bilang risikonya besar , mereka benar, risiko besar kalau kita ga tau cara mengemudi seperti anak TK atau SD mau mengemudi motor kita juga ketar ketir. di investasi juga begitu, makin tinggi pengetahuan kita , makin kecil risiko untuk berinvestasi karena kita tau mana investasi yang cocok untuk kita.

7. Waktu untuk memonitor investasi kita

Seberapa banyak waktu kita untuk memonitor investasi kita? apakah kita punya waktu untuk menganalisa perusahaan yang sahamnya ada dalam short list kita?

sekian dari saya untuk topik ini. saya akan menelaah secara lebih detail asset class satu persatu.

AC Rusak dan Emergency Fund

Postingan agak panjang, waktu baca 8-10 menit.

Setelah 8 tahun memberi kesejukan udara di rumah, akhirnya AC bermerek LG itu melemah dan terpaksa diganti yang baru. Kemungkinan besar kerusakannya dari PCB yang ada di kompresornya dan jika diganti PCB mesti bayar SGD 800 an dan itu pun mungkin tidak bertahan lama.

Di Gain City, harga 4 unit AC sekitar SGD 4,000 (rata rata). Bisakah dibayar secara dicicil? Ternyata kalau membeli lewat online, bayarnya menggunakan Fave Pay (credit card) atau Cash Paynow.

Agar tidak rugi, saya bertransaksi dengan Fave Pay agar mendapatkan cash back SGD 84 untuk transaksi berikutnya. Dan ada credit card 1.5% cash back dengan Standard Chartered Unlimited Credit Card.

Ya benar, Emergency Fund sungguh sangat berguna disaat-saat seperti ini. Akan lebih baik jika kita menyediakan cash sebesar 6 bulan pengeluaran regular untuk hal-hal yang terjadi secara tidak direncanakan.

Di samping itu, saya juga berpikir jika dalam 8 tahun kita bakal beli AC atau tiap 3 tahun pasti beli mesin cuci, sebaiknya kita menabung untuk pengeluaran yang kita sudah tahu bakal terjadi di waktu yang akan datang.

Di manakah sebaiknya menyimpan Emergency Cash? Terkadang rasanya sayang kalau ada uang yang nganggur tersimpan dengan bunga sedikit. Padahal amat penting kalau kita butuh mendadak, uang ini harus:

1. Mudah dilikuidasi

2. Nilai yang dilikuidasi tidak lebih rendah dari pada nilai yang kita simpan.

Sebaiknya jangan berinvestasi ke stock market yang rentan berubah nilainya, demi menghindari saat kita butuh uang tapi terpaksa menjual aset investasi kita yang sedang merugi. Sebaiknya diinvestasikan di money market, fix deposit, sertifikat berjangka pemerintah (di Singapura ada Singapore Saving Bond) atau promosi yang ditawarkan di bank, seperti DBS Multiplier atau UOB One Account.

Saya sendiri menyimpan uang untuk emergency fund di Stashaway Simple, yang mereka investasikan di Money Market tanpa pengenaan biaya apapun, dengan bunga kira-kira 1.9% pertahun. Not bad. Dan tentunya harus bisa diuangkan kapanpun, bukan?

Singapore Saving Bond mempunyai step up interest, jadi makin lama jangka waktunya akan makin tinggi bunga yang di dapat. Kita bisa investasi minimum kelipatan SGD 500 dan ada biaya SGD 2. Detailnya bisa dicermati di websitenya langsung: https://www.mas.gov.sg/bonds-and-bills/Singapore-Savings-Bonds

DBS Multiplier atau UOB One account meminta syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti harus giro untuk bayar bill dengan credit card bank tersebut, lalu harus punya investasi di bank itu, juga harus belanja dengan credit card bank itu dengan minimum pembayaran sekian SGD. dan sebagainya.

Jadi kesimpulannya, emergency fund penting untuk hal-hal yang tidak kita sangka terjadi. Walaupun untungnya kecil, yang penting bisa diambil/dicairkan kapan pun dan tidak merugi saat diambil (low risk)

Semoga berguna!

====================================

A/C is not cool.. But the emergency fund saves it!

Long post-8-10 mins read.

After 8 years giving cool air at home, finally the A/C weakened and begged for retirement. Most probably the damage came from the PCB in the compressor, and PCB was to be changed, it costs SGD 800, and it would not last long.

At Gain City, the average cost of 4 units of A/C is SGD 4,000. Can it be paid in instalments? Apparently, if we buy it online, we have to use Fave Pay (credit card) or Cash Paynow.

To avoid any loss, I pay it with Fave Pay so I can get cashback SGD 84 for my next transaction. Plus, there is also 1.5% credit card cashback with Standard Chartered Unlimited Credit Card.

Yup, Emergency Fund is indeed useful at times like this. It is better to prepare the fund in the amount of 6 months regular expense for any unexpected things. Aside from that, I start thinking that if in 8 years I would have needed to buy a new A/C or a new washing machine every 3 years, I would decide to save for the expenses that we know we will take out in the future.

So, where should we keep our emergency fund safely? Too bad that I leave my savings with small interests. In fact, when an accident happens, this fund should be:

  1. Easy to liquidate;
  2. The liquidated amount is not lower than the total amount of our savings.

I suggest not to invest in stock markets that tend to change in amount, to avoid an ugly fact-selling your asset when you are losing already. There are so many more options: money market, fixed deposit, government’s futures certificate (in Singapore, there is one place called Singapore Saving Bond) or any promotion that is on the offer by a bank, like DBS Multiplier or UOB One Account.

I also save my money for an emergency fund in Stashaway Simple, where they invest in Money Market without any charge, with 1.9% interest annually. Not bad. And it certainly can be liquidated anytime, right?

Singapore Saving Bond has step up interest, so the longer the period, the bigger interest we get. We can invest our money in a minimum amount of multiples of SGD 500 and the fee is SGD 2. You can check the details in the link below:

https://www.mas.gov.sg/bonds-and-bills/Singapore-Savings-Bonds

DBS Multiplier or UOB One Account require some terms and conditions that you need to fulfill, for example: gyro to bill payment with their credit card, an investment in that bank, shopping payment using their credit card with minimum payment of xxx SGD, etc.

So in conclusion, an emergency fund is essential to any unexpected incident. You might have a small interest, but at least you can liquidate the fund anytime and it is also a low risk.

See you in our next post!

Strategi Investasi Saat Terjadi Pandemi

Postingan ini agak panjang, butuh waktu 10 menit untuk membacanya1

Belakangan ini kalau kita membuka whatsapp, menonton berita TV, dunia sedang gundah gulana karena Corona virus yang mewabah di China dan lalu di beberapa negara di dunia. Dampaknya dirasakan langsung di sektor perekonomian, perdagangan, dan investasi saham di mancanegara terutama di China sendiri sebagai negara awal mula terjadinya wabah penyakit itu.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus ini, perusahaan-perusahaan di China memperpanjang libur karyawan mereka. Beberapa kota di sana, seperti Wuhan, di mana pandemi ini berasal, ditutup (lock down). Tidak ada pergerakan orang dari atau ke luar kota Wuhan. orang-orang memilih tinggal di rumah dari pada berjalan-jalan dan berbelanja. Hal ini tentu langsung berdampak pada perekonomian China dan juga negara tujuan wisatawan China seperti Singapura dan Indonesia, yang juga menutup bandara mereka untuk turis asal China.

Pengaruhnya juga merembet ke bursan saham mancanegara. Sebagian besar bursa saham di dunia merah merona seolah-olah kompak menyambut hari raya Imlek. Lalu apakah strategi yang harus dilakukan? Mari kita lihat diagram di bawah ini, yang diambil dari Marketwatch article.

kita bisa lihat pada diagram di bawah, sebagian besar wabah penyakit tidak berdampak negatif terhadap performa stock market dunia. Semacam ada imunitas terhadap pandemi penyakit. Mungkin dalam jangka pendek, stock market mengalami penurunan, tetapi dalam jangka panjang stock market bisa rebound seperti sebelum ada pandemi corona.

Jadi apakah yang kita harus lakukan? Sebagai long term investor, kita mesti tetap hold stock yang kita miliki karena semua stock kita tentu sudah melewati proses analisa yang dalam sebelum kita membelinya. Dari segi finansial, perusahaan yang kita beli sahamnya cukup kuat diterpa badai apapun alias tahan banting.

Di saat pandemi seperti ini sebaiknya kita hindari panic sell karena mempunyai pandangan jangka panjang. Santai saja. Kalau kita panik, jangan lihat pergerakan stock kita. Bahkan mungkin kita malah berkesempatan membeli kalau harga stock sedang diskon. Kita juga bisa tambah portfolio dengan bond (sertifikat berjangka) yang lebih kecil risikonya. Bisa juga dengan membeli stock yang ada devidennya atau investing dengan metode Dollar Cost Averaging. Tetap semangat menambah investasi secara rutin setiap bulan walau pun stock kita naik atau turun.

Semoga bermanfaat dan salam cuan!

====================================

Investment Strategy during Pandemic

10-mins read

Apparently, Coronavirus is spreading not only physically but also online (the news, of course). WhatsApp, the daily news you read by phone or papers, even on the running text when you watch your favorite shows in the morning, Coronavirus is never missed to be read. Coronavirus is impacting the economic sector, trading, and stock investment all around the world, especially China, where the virus originated.

To anticipate the outbreak, companies in China extend their holidays. In some cities, like Wuhan, where the virus originated, are locked down. Nobody got out, not even to the market. People would rather stay at home than take a walk or go shopping. This fact certainly affects China’s economy and also any Chinese tourist’s travel destination, such as Singapore and Indonesia, that also closed the doors for Chinese tourists.

Worldwide stock market is also impacted. Most of the stock market is red, as if they are celebrating the Chinese New Year. Then what is the strategy? Let’s see the diagram below, which I adopted from Marketwatch article.

In the diagram below, most diseases don’t give a negative impact to the world market stock performance. They are “immune” to pandemic disease. In a short term period, probably, stock market decreases, but in the long term period, stock market can bounce back like before the pandemic Coronavirus.

This image has an empty alt attribute; its file name is mw-hy841_diseas_20200122175702_ns.png

So what should we do? As a long term investor, we should keep holding the stocks we own because all of our stocks certainly have been analysed thoroughly before we bought them. Financially, the company which their stocks we invest or about to invest is strong enough to withstand the storm.

Also, we should avoid panic sell because of long term vision. Be cool. If we panic, don’t see our stock movement. We might have a chance to buy stocks while they are on sale. We can make more portfolios with bonds (futures certificates) with lower risks. Or you can buy stocks that have dividends or invest with Dollar Cost Averaging method. Even though stock prices are up/down, be cool and invest more every month.

Happy investing!

Rule 72

Postingan pendek, hanya butuh 2 menit waktu untuk membacanya!

Pernah dengar tentang Rule 72?

Rule 72 sangat berguna untuk menghitung berapa lama modal kita menjadi dua kali lipat dengan prosentase keuntungan yang kita dapat per tahun.

Misalnya jika kita menanamkan uang kita (USD 1000) ke index fund seperti S&P 500 di USA dengan keuntungan rata-rata 9% per tahun annualised, maka dalam waktu 8 tahun (72/9) investasi kita bisa menjadi dua kali lipat (USD 2000). Harap diingat, Rule 72 ini sebagai hitungan kasar saja. Ada kalkulator finansial di internet yang bisa menghitung secara akurat berapa waktu yang dibutuhkan supaya investasi kita menjadi dua kali lipat dari semula.

Di bawah ini adalah illustrasi dari Rule 72

============================================

Rule 72

Short post, just 2 mins-read.

Have you ever heard of Rule 72?
Rule 72 is very useful to calculate how long our initial capital will go double. It is the multiplication of how long it takes to be double (in terms of year) and the profit percentage we achieve every year.

For example, if we invest (let’s say $1000) in an index fund like S&P 500 in the USA with average profit of 9%/year, then in 8 years period (72/9) our investment will be double ($2000). A gentle reminder, Rule 72 is a rough calculation. There is a financial calculator online that provides an accurate calculation of how much time needed for our initial investment to be double by key in the annual average return.

Below is the illustration of Rule 72.

Adakah Plan B dalam hidupmu?

Seminggu yang lalu sebelum libur CNY, saya ikut serta dalam sebuah seminar tentang Plan B, yang diadakan oleh StashAway, robo investment company, dimana kita bisa berinvestasi dengan risk level tertentu sesuai dengan yang kita mau. Algorithm Roboinvestment nantinya akan mengalokasikan investasi sesuai dengan keadaan ekonomi, risk level yang kita masukan dan lain sebagainya.

Berhubung seminar ini mengenai plan B, sebelumnya apakah plan A-nya? Plan A adalah rencana utama kita dalam hidup, seperti rencana travelling, memiliki property, punya anak, pensiun, juga charity. Semua plan atau goal itu tergantung kepada kita sendiri, waktu yang kita miliki dan seberapa disiplinnya kita untuk mencapai tujuan tersebut. Di samping itu ada beberapa hal yang mungkin menghalangi kita dalam mencapai tujuan tersebut, seperti:

1. Ketidakdisiplinan kita menerapkan cash management seperti gagal memprioritaskan penge;luaran

2. Kehilangan pekerjaan/penghasilan secara tiba-tiba

3. Punya banyak anak, walau banyak anak banyak rejeki kata orang dulu, tapi sejatinya akan banyak pengeluaran

4. Sakit yang membuat kita tidak bisa produktif lagi

5. Kematian

Supaya Plan A kita tetap dapat berjalan lancar jaya tanpa hambatan, maka kita perlu mempersiapkan Plan B.

Plan B ini diantaranya adalah:

1. Emergency fund.

Emergency fund atau dana darurat berguna sebagai likuiditas jika ada hal-hal yang terjadi mendadak atau tidak diinginkan. Seperti kita sedia stok mie instan dalam jumlah banyak sebelum banjir datang karena payung sudah tidak berguna lagi jika sudah terjadi banjir. Jika terjadi ada anggota keluarga yang sakit atau kita kehilangan pekerjaan, maka kita tidak perlu menjual investasi kita yang mungkin sedang rugi untuk menutup kebutuhan yang terjadi tiba-tiba ini.

Lalu seberapa besar emergency fund? Rule of thumb sekitar 6 bulan pengeluaran reguler. Misalnya pengeluaran sebulan SGD 3,000 atau misal Rp 10 juta sebulan, dikalikan 6 menjadi SGD 18,000 atau 60 juta. Paling tidak kita masih punya 6 bulan dana cadangan jika kita kehilangan pekerjaan/penghasilan.

Jumlah tersebut hanya sebagai perkiraan, tergantung seberapa stabilnya pekerjaan kita dan seberapa gantengnya kita di mata boss. Kalau pekerjaan kita sales yang biasanya commission based mungkin penghasilan kita tidak terlalu stabil karena bisa saja terjadi missed target atau bisa juga komisi berkurang. Dibanding pekerjaan sebagai pegawai negeri atau pekerjaan dengan penghasilan bulanan tetap, pekerjaan sales ini mungkin diperlukan 10 sampai 12 bulan pengeluaran regular.

2. Proteksi

Bukan berarti kita menyewa body guard atau tukang pukul, tetapi proteksi di saat kita sakit keras (critical illness), disability atau kematian berupa asuransi.

Ada 3 macam tipe asuransi menurut tujuannya

a. Replacement insurance, asuransi ini untuk mengganti pemasukan kita yang hilang akibat total permanent disability, long term disability, atau critical illness. Terutama jika keluarga hanya bergantung kepada penghasilan kita.

b. Investment insurance, asuransi ini bertujuan untuk investasi jangka panjang seperti Endowment Plan, investment link policy (ILP) atau life insurance yang mempunyai money value (Whole Life).

c. Legacy insurance, asuransi ini mirip dengan replacement insurance tapi asuransi ini ditujukan untuk warisan jika kita mengalami kematian (atau terminal illness).

Rule of thumb: asuransi yang hybrid atau campuran cenderung tidak terlalu menguntungkan dibanding asuransi yang fokus ke salah satu tipe investasi. Sangat disarankan untuk menghindari Investment link policy karena preminya bakal terbagi dua antara investasi dan asuransi. Di samping itu premi asuransi akan semakin mahal seiring bertambahnya usia kita dan persentase premi untuk investasi juga bakal berkurang.

Term Life Insurance

Ada pepatah di dunia persilatan investasi, buy term invest the rest. Berhubung Term Life asuransi preminya lebih murah dibanding Whole Life insurance, maka kita lebih baik membeli term plan dan invest sisanya. Kecuali kita memang tidak mau pusing memikirkan bagaimana cara kita investasi dan tidak punya disiplin untuk menyisihkan uang yang disimpan dari membeli term plan. Buy term dan shop the rest. Kalau anda masuk dalam kategori ini, mungkin anda bisa mulai bertanya pada agen-agen terdekat di sekitar tentang rekomendasi mereka.

3. Estate plan

Sebuah rencana untuk meneruskan harta yang kita simpan untuk generasi selanjutnya. Di Singapura ada 2 tipe yang harus kita siapkan:

a. Will, bukan wanita idaman lain lain lho! Tapi surat wasiat. Persiapkan diri untuk menghadap ke notaris, bayar sekitar SGD 200 untuk membuat template yang simpel. Jika ada tambahan klausa-klausa lain yang rumit, bakal ada biaya tambahannya.

b. CPF nomination.

Ini penting karena CPF kita tidak termasuk dalam Will, jadi jika terjadi sesuatu, will yang kita siapkan tidak bisa menyentuh CPF kita. CPF nomination sangat simpel dan gratis. bahkan bisa dilakukan secara online juga dengan menghadirkan 2 orang saksi, NRIC-nya, alamat email dan nomer telepon.

Mengapa harus ada WIll atau CPF Nomination?

Jika tidak ada dua surat tersebut, bakal ada probate dimana aset kita dibekukan dahulu, menunggu keputusan pengadilan yang membutuhkan paling cepat 3 bulan.

Untuk menghindari perselisihan antara anggota keluarga, lebih baik kita siapkan WIll dan CPF nomination ini. Jika nantinya kita berubah pikiran, toh bisa membuat lagi.

Selamat merencanakan keuangan anda, lengkapi plan A dengan plan B ya!

===============================

Plan Your B Strategy!

A week before Chinese New Year 2020, I attended this seminar about Plan B, held by StashAway. StashAway is a robo investment company, which allows us to invest with a certain level of risk according to how we want it.

This algorithm Roboinvestment will allocate the investment by adjusting our economic situation, the risk level that we submit and etc.

However, there is also a plan A as a starter. Plan A is our main plan in life, e.g. travelling, property, having kids, retirement plan, and charity. All these plans and goals depend on us, the time we have and how disciplined we are to achieve that purpose. Aside from that, there are also some barriers, for example:

–          Indiscipline to manage the cash flow; fail to prioritize needs and desires;

–          Sudden layoffs;

–          Have one too many children (“more children more fortune” is a life-role phrase. The fact is, more children = more expenses.);

–          An illness that caused unproductivity;

–          Death.

In order to keep the Plan A going smoothly, we need to prepare a Plan B. Here are some Plan Bs:

1.       Emergency fund.

Emergency fund is advantageous for liquidity if an accident happens. Simply keep Indomie as a food stock emergency before our house is flooded, because umbrellas are no longer useful. If one of our family members were sick or we lost our job, we would not need to sell our investment (probably making a loss) to cover up the accident.

Then, how much is the emergency fund? The rule of thumb, around 6 months from regular expenses. For example, 1 month’s expenses is SGD 3,000 or Rp10 million, multiply it with 6, equals to SGD 18,000 or Rp 60 millions. So at least we have 6 months of emergency fund if we were laid off.

The amount above is an estimation. This depends on how stable our job is and you’re lucky if you’re pretty. For example, if you were a salesman, your income would come from your commission, and probably your target was not achieved so your commission would be reduced. Compared to an office worker with stable income, a salesman might need 10-12 months of regular expenses.

2. Protection.

No bodyguard is hired here-this means a protection when we have critical illness, disability or deaths, in the shape of insurance.

There are 3 insurance types based on the purpose:

  1. Replacement insurance. This insurance is to change our lost income caused by permanent disability, long term disability, or critical illness. Especially if our role is the backbone in the family.
  2. Investment Insurance. This insurance is for long-term investment, such as endowment plan, investment link policy (ILP) or life insurance that holds money value (whole life).
  3. Legacy insurance. Similar to replacement insurance, but this insurance is intended for legacy for death or terminal illness.

Rule of thumb: hybrid insurance tends to be less profitable than insurance that focuses on one type of investment. I strongly recommend avoiding link policy investment because the insurance premium will be divided into two; investment and insurance. Aside from that, insurance premiums will be getting more expensive as we get older and insurance premium percentage for investment will also be reduced.

  1. Term life insurance. Here is one saying in the investment world: buy the term; invest the rest. Term life insurance has cheaper insurance premium than whole life insurance, it is better to buy the term plan and invest the remaining. Unless we want to be worry-less on how we should invest and indiscipline to set aside the fund from buying the term plan, buy term and shop the rest. If you are qualified in this category, you can ask recommendations to the nearest agents around you.

3. Estate plan.

A plan to pass the treasure to our next generation. In Singapore, there are 2 types of plan that we should prepare:

  1. A will. I strongly suggest notarizing this will. An SGD 200 would not hurt to document a simple template. But yes, the more complicated, the more additional cost.
  2. CPF nomination. This is essential because our CPF is not included in the Will. So if anything happens, the Will will not touch our CPF. CPF nomination is simple and most importantly, free. It can be done online by attending 2 witnesses, NRIC, addresses and phone number.

Why Will or CPF nomination is important?

If those 2 deeds are unavailable, there would be a probate where our assets are frozen, and to redeem them, we need to wait 3 months for the court decision.

Also, to avoid any dispute in the family, it is better to prepare a Will and CPF nomination. It’s alright to change your mind, you can always create it all over again.

Good luck planning your financial, don’t forget the A and B!

(translated by Kara)

Postingan Receh Pertamax

Thank you, terima kasih, maturnuwun, bagi anda-anda yang sudah mau mampir ke blog saya yang receh ini… Semoga bisa bermanfaat terutama bagi yang mau belajar tentang finansial dan investasi! Selamat membaca, salam cuan!

If you want to be successful, make reading a habit. – Warren Buffett

post